Rabu, 11 November 2009

Merefleksikan diri dengan sedikit Entertainment

Karena beberapa aktivitas yang saya kerjakan terkesan sedikit monoton, maka seminggu yang lalu saya tengah merasakan kepenatan dan kejenuhan dalam beraktivitas, saya mengerti bahwa sebenarnya diri ini butuh sedikit entertaint yang dapat membangkitkan spirit belajar dan spirit dalam ber-entrepreneur. Maka dari itu mulailah saya memikirkan hendak kemana saya bawa diri ini untuk mencari sedikit hiburan, akhirnya pada sabtu sore sepulangnya dari rumah kos salah satu teman saya untuk mengerjakan tugas kuliah, saya melihat ada spanduk yang terpampang di salah satu bioskop di kawasan simpang lima yaitu spanduk film drama action karya anak bangsa yang sedang tayang dengan judul "Serigala Terakhir", kebetulan ini adalah salah satu film yang telah saya nantikan. Tak lama kemudian planningpun saya buat untuk dapat menikmati entertain tersebut.Tepatnya pukul 12.30 WIB hari ahad tanggal 8 November kemarin sayapun pergi ke tempat dimana film Serigala Terakhir ditayangkan untuk dapat menonton dan sedikit merefleksikan jiwa dan pikiran saya. Dan ternyata tak percuma, film drama action tersebut benar-benar dapat menghilangkan sedikit kejenuhan dan kepenatan yang saya alami.
Sepulangnya dari gedung bioskop tersebut, aktivitas bulanan saat awal bulanpun saya aplikasikan yaitu untuk hunting buku baru, dan memang keberuntungan sedang berpihak pada saya, tak jauh dari gedung bioskop tersebut saya menemukan selembar selebaran yang berisi bahwa ada diskon 30% untuk segala jenis buku di toko buku Gramedia Java Mall Semarang yang berlaku hingga hari itu ahad 8 November 2009, tak pikir panjang sayapun langsung bergegas menuju Gramedia Java Mall.
Situasi disana benar-benar ramai saat itu namun rak demi rak telah saya lalui dan akhirnya sayapun memilih dua buah buku untuk saya beli, yang pertama yaitu buku karangan Aidil Akbar Madjid sang Wealth Planner yang berjudul "Manajemen By Amplop", buku tersebut berisikan tentang cara tepat dalam merencanakan sistem keuangan (antara penghasilan dan pengeluaran).Buku kedua yang saya pilih yaitu buku karangan Boye de Mente dengan judul "42 Rahasia Hidup Bahagia Ala Samurai", saya yang memang interest dengan lifestyle-nya Samurai tak ragu lagi untuk mengambil buku tersebut.Dan akhirnya hari ahad kemarin merupakan hari yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan, kepenatanpun hilang dan semangatpun tetap bisa dipertahankan (insya Allah).

Sabtu, 07 November 2009

Melejitkan Sifat Optimisme Yang Mulai Terkikis

"Jika mau sukses, maka hendaklah berusaha dan berdo'a semaksimal mungkin", begitulah memang yang sering kita dengarkan dari para motivator, dan real motivator kita yang kita jadikan uswah bagi umat muslim. Suatu ketika di zaman Rosul, sahabat Rosul yaitu Umar bin Khattab RA pernah menemui seseorang yang tiap hari berada di masjid dari sebelum shubuh hingga larut malam, selang beberapa hari Umar bin Khattab RA bertanya ke orang tersebut, kenapa engkau berada di masjid terus? memangnya engkau tidak mempunyai keluarga?, lalu orang itupun menjawab ' aku punya keluarga dan aku sedang meminta rezeki yang banyak dari Allah SWT', mendengar jawaban dari orang tersebut sontak Umar bin Khattab RA marah besar dan mengusirnya dari masjid sembari berkata ' Allah SWT tidak akan menurunkan rezekiNya dari langit secara langsung, engkau punya keluarga yang harus engkau nafkahi, rezeki itu harus dicari atau diusahakan'.
Memang sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu berikhtiar dan berdo'a dalam mengusahakan sesuatu, namun benar adanya jika dalam berikhtiar itu tidak semudah apa yang dibayangkan tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak kendala, hambatan dan rintangan yang kerap menghalangi kita untuk meraih apa yang kita inginkan. Kendala-kendala tersebutpun secara tidak langsung acap kali membuat rasa optimisme kita terkikis secara perlahan.
Sebagai umat muslim, sudah seharusnya kita meniru jejak langkah dari tokoh trend setter kita Rosulullah SAW yang dengan kegigihannya dan kesabarannya telah melalui beragam rintangan yang jauh lebih variatif dan jauh lebih besar dari pada umatnya dan berakhir dengan kebahagiaan yang hakiki, karena memang beliau memiliki trustment to 'dont give up before effort n pray'. Sikap optimisme dari seorang muslim haruslah ditanamkan sedalam-dalamnya, bukankah sang Maha Kaya telah berfirman "La yukallifullahu nafsan illa wus'aha" (Allah tidak akan memberi beban atau ujian melampaui batas kemampuan kita), coba kita renungkan kembali, cicak dengan segala keterbatasannya yang tidak memiliki sayap saja bisa makan nyamuk yang dapat dengan mudah untuk terbang, apa lagi dengan kita sebagai makhlukNya yang paling sempurna.
Lalu apa alasan kita untuk menjadi lemah dan pesimis??? bukankah bumi dan seisinya juga diciptakan hanya untuk manusia?? untuk apa sapi menghasilkan susu sebanyak itu, untuk apa lebah menghasilkan madu yang sangat banyak, untuk apa pohon mangga berbuah lalu untuk apa ayam bertelur??? semuanya telah di skenario dan diciptakan Allah SWT hanya untuk manusia.
Apakah benar hanya dengan dalih frustasi dan lelah untuk berusaha dan berdo'a saja manusia itu menyerah??? coba kita tilik ke belakang bagaimana Nabi Nuh AS dengan kegigihannya telah menciptakan satu buah kapal guna menyelamatkan umatnya dalam kurun waktu puluhan tahun, Bagaimana Nabi Ayyub AS dengan kesabarannya telah melaui ujian dari Allah SWT berupa penyakit kulit yang menimpanya. Mengapa kita ragu dengan firmanNya "Fainnama'al u'sri yusro" (Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan).
Maka sudah saatnya sebagai umat muslim yang taat beragama untuk berdiri dan bangkit dari segala kemalasan dan kelesuan yang selama ini menghadang kita, buang jauh-jauh segala sifat pesimisme yang selama ini menghantui kita dan jadilah seseorang yang selalu optimis namun realistis. Tetap berikhtiar, berdo'a dan serahkanlah segalanya kepada sang Maha Pemberi Hikmah, karena sesungguhnya Allah tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, namun Allah selalu memberikan apa yang kita inginkan.

Rabu, 04 November 2009

Etika Dalam Berteknologi

Agar dapat menjalankan hidup dengan selaras dan seimbang tentunya dibutuhkan norma dan etika yang mengikat baik itu secara tertulis maupun secara tidak tertulis, tak terkecuali dalam berteknologi. Perkembangan teknologi yang terjadi dalam kehidupan manusia dirasa seperti revolusi yang membawa dampak perubahan pada cara berfikir manusia, baik dalam penyelesaian masalah, perencanaan maupun dalam pengambilan keputusan. Etika sendiri merupakan ilmu moral mengenai sesuatu hal yang baik dan yang buruk, yang baik dan yang benar dan yang dapat mengatur antara hak dan kewajiban. Seiring semakin pesatnya teknologi informasi dan komunikasi baik hukum maupun etika yang ada sekarang ini semakin jelas menunjukkan bahwa tidak adanya margin antara mana yang bersifat publik dan mana yang bersifat privasi. Dalam suatu perusahaan misalnya, pimpinan memiliki kewenangan dalam melindungi pegawainya dari pihak-pihak yang tidak diinginkan dalam mengakses email atau data rahasia pegawainya. Namun disisi lain pimpinan juga memiliki kekuasaan untuk mengawasi email para pegawainya tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan dengan dalih demi kepentingan perusahaan, dalam hal ini maka dapat dikatakan bahwa dalam perusahaan tersebut privasi atas diri seorang karyawan telah hilang.
Internet yang juga memberikan berbagai macam efek terhadap pola hidup manusia memang sangat bermanfaat sebagai media untuk belajar, promosi, komunikasi dan lain sebagainya. Namun konten internet sendiri tidak sedikit yang memiliki muatan yang tidak ramah khususnya bagi anak-anak. Konten bermuatan pornografi di internet tubuh subur dan telah menguntungkan salah satu pihak, tanpa mengindahkan dampak sosial yang terus berkepanjangan.
Di Nusantara tercinta ini, belum ada affirmative action untuk melindungi anak-anak dari situs-situs yang merugikan tersebut. Beberapa warung internet masih belum memanfaatkan program filter guna filterisasi situs-situs porno tersebut.
Pemanfaatan teknologi memang sangat membantu kita dalam mengakses berbagai macam informasi, namun pemanfaatan tersebut bisa juga menjadi bumerang yang dapat menjerat ke perkara hukum, mulai dari cyberstalking, pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, ancaman ataupun aksi spamming, hacking dan cracking. Etika memang sangat dibutuhkan dalam cyberworld, apakah ketika dalam menulis atau berkata mengenai sesuatu itu tergolong dalam perbuatan baik atau buruk dan menyinggung perasaan orang lain atau tidak dan apa pula dampak dari semua itu. Karena memang berdasarkan pengamatan penulis saat ini perang kerap sekali terjadi di dunia maya, kebencian terjadi dimana-mana, mulai dari pelecehan agama, ras, suku bangsa dan negara.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memang sangat mempengaruhi mental manusia, namun menurut penulis itu semua dikembalikan pada diri masing-masing, ketika seseorang selalu beretika dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka semuanya akan dapat berjalan secara selaras dan seimbang, disamping itu dengan memantapkan sistem legalisasi maka akan dapat meminimalisasi dampak negatif dari pesatnya perkembangan teknologi. Sudah saatnya cyberlaw benar-benar untuk ditegakkan.