Sabtu, 07 Februari 2009

Kenakalan remaja pasti bisa saya tinggalkan...

Kenalakalan remaja merupakan hal yang sering terjadi di kalangan kaum pelajar kita, memang banyak hal yang menyebabkan mereka terperangkap ke dalam lembah hitam tersebut, disamping karena faktor pribadi, faktor keluarga dan lingkungan pergaulan juga berpengaruh besar dalam kasus kenakalan remaja.
Dalam lingkungan keluarga, orang tua sangat berperan aktif menjadikan anak-anaknya kelak menjadi anak yang baik atau tidak, kesemuanya itu membutuhkan proses yang tidak sebentar dan tidak mudah dalam membentuk karakter dari setiap anak. Seorang anak baik secara langsung atau tidak langsuk akan memplagiat setiap sikap, cara berbicara dan cara berfikir orang tuanya semenjak dia mulai bisa mendengar dan melihat tanpa adanya sistem filterisasi, maka dari itu jangan selalu salahkan anak jika pada saat menginjak remaja, anak yang selalu diidolakan dan dibanggakan tiba-tiba menjadi yanki (sebutan bagi remaja yang nakal di masyarakat jepang) karena proses pembelajaran dan mendidik anak yang tidak dilakukan semenjak dini, sulit memang merubah karakter anak yang sudah terlanjur terjerumus ke lembah kesesatan pada saat menginjak remaja, karena pada usia 12-18 tahun mereka sedang mengalami pertumbuhan hormon, indikasi dari pertumbuhan hormon tersebut berdampak tingkat emosional yang bergejolak dan rasa agar tidak ada intervensi pada setiap masalah yang dialami oleh seorang anak itu juga sedang memuncak, maka dari itu semua prosesnya dimulai sejak dini.
Tidak lain halnya dengan faktor environment, usia remaja merupakan usia yang mempunyai tingkat curious yang sangat tinggi, mereka ingin selalu mencoba setiap barang, kejadian atau sesuatu apapun yang belum pernah dicoba yang notabene membawa kenikmatan tersendiri menurut asumsi mereka. Dari situlah seorang remaja sedang mengexplore semua yang membuat mereka penasaran dan melakukan pengembaraan untuk menemukan jatidiri mereka.
Tetapi pada suatu saat tertentu adakalanya mereka merenung dan menyadari setiap tindakan bodoh yang pernah dilakukannya, pada saat inilah plilihan hidup mereka ditentukan oleh mereka sendiri, apakah akan terus melakukan hal-hal bodoh tersebut ataukah akan menyesali, berhenti melakukan tindakan yang membawa mereka jauh ke dalam lubang kenistaan lagi dan melakukan perubahan untuk memperbaiki diri. Disaat itu pula keyakinan dan keteguhan hati sedang dicoba, dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat dibutuhkan.
Banyak diantara kita yang melihat seseorang sedang berlari dan berpacu untuk memperbaiki diri dengan keyakinan dan kegigihan hati, acapkali kita malah mencemoohnya, meremehkannya dan melemahkan semangatnya. Tetapi sebenarnya sesekali bagi kaum remaja atau siapapun yang menginginkan perubahan dan sering mandapat ejekan, cemoohan dari beberapa orang adakalanya kita harus tuli, seperi kasus cicak yang akan diceritakan dibawah ini.
Peringatan hari kemerdekaan di Negeri Binatang berlangsung meriah denganacara-acara perlombaan. Salah satu acara yang menarik adalah Panjat Pinang untuk para cicak. Batang pinang dilumuri getah salah satu pohon yang licin. Perbedaan dari panjat pinang ini adalah tidak untuk memperebutkan sesuatu diatas dan tidak perlu kerja sama. Perlombaannya sederhana yaitu siapa yang sampai puncak duluan dialah pemenangnya. Aturannya sederhana, jika ada cicak yang sudah jatuh, masih diberi kesempatan tiga kali untuk tetap naik. Namun, jika sudah ada cicak yang sampai duluan dipuncak, maka pertandingan berakhir dengan pemenang yang sampai duluan dipuncak.
Total peserta cicak yang ikut sebanyak 25 ekor, dengan hadiah utamanya yaitu sebuah rumah mewah untuk cicak.
Ketika juri meniup peluit tanda perlombaan dimulai, maka ke-25 ekor cicak ini mulai berebut naik, Baru beberapa menit, sudah beberapa tokek yang tergelincir jatuh. Penontonpun semakin histeris melihat perjuangan para cicak yang bersusah payah untuk sampai dipuncak. Anehnya, penonton bukan memotivasi, melainkan memberitahukan bahwa adalah tidak mungkin untuk mencapai puncak yang demikian tinggi sementara badan cicak kecil. Suara penontonpun mulai berubah."Sudahlah, tidak mungkin sampai, turun saja!" demikian sorak penonton.
Yang lain mengatakan, "Jangan gara-gara iming-iming rumah kau korbankan sesuatu yang mungin berguna untuk yang lain."
Bahkan, cicak senior yang tidak ikut bermain malah berkomentar,"Zaman saya dulu saja tidak se-ngotot ini, yang penting jalan saja seperti rutin."
Sementara itu para petingi negeri binatang juga mulai ikut angkat suara, "Sudahlah cicak, sengaja kami buat perlombaan ini hanya untuk senang-senang dan memang dirancang agak sulit. Jadi turunlah ! Tidak mungkin kamu bisa mencapai puncak."
Mendengar teriakan-teriakan yang demikian, beberapa cicak mulai jatuh motivasinya, daya juangnya juga semakin melorot dan akhirnya mulai tereliminasi satu demi satu. Melihat kondisi demikian, penonton semakin lantang berteriak bahwa tidak mungkin ada cicak yang dapat mencapai puncak. Namun demikian, perlombaan belum selesai. Dari 24 cicak yang sudah tereliminasi, tinggal satu cicak yang terus merangkak naik, perlahan namun pasti. Melihat hal itu penonton kembali bersorak dan mencemooh sang cicak, bahwa tidak mungkin mencapai puncak.
Bahka seekor binatang yang kaya raya mengatakan, "Hai cicak, turunlah! Kalau demi rumah mewah kau rela berkorban untuk sesuatu yang tidak mungkin, kau pakailah rumah mewahku dan turunlah, sebab semakin tinggi kau memanjat maka semakin besar pula resikonya untuk jatuh, dan itu sangat menyakitkan."
Namun, kata-kata si binatang kaya inipun tidak digubris oleh sang cicak. Mendekati tengah hari, semua penonton mulai terdiam. Mereka melihat cicak dengan konstan dan akhirnya.....mencapai puncak.
Gegap gempita dan sorak sorai penontonpun meledak melihat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bahkan rekan-rekannya yang telah tereliminasi ikut menangis dan terharu melihat rekannya bisa mencapai puncak. Setelah diturunkan dengan tali khusus, beberapa penonton dan petinggi negeri binatang berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan sang cicak bisa mencapai puncak dan meraih hadiah utama. Betapa kagetnya mereka, setelah diperiksa ternyata sang cicak pemenang itu ternyata tidak bisa mendengar atau tuli.
Belajar dari sang cicak, adakalanya kita perlu "tuli" untuk tidak mendengar segala pembicaraan negatif yang dapa menghambat laju perubahan dan perkembangan kita. Tuli disini berarti, kita melakukan introspeksi diri terhadap isu yang berkembang, dan jika idak benar barulah menjadi "tuli" yang sesungguhnya.
Jadi untuk semuanya, tidak ada kata terlambat dan yakinlah kita bisa melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik, karena Allah akan senantiasa mengabulkan segala permohonan bagi hambanya yang melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Always Be Better........

Cerita cicak dicuplik dari buku Setengah isi Setengah kosong karya Parlindungan Mampuang


Jumat, 06 Februari 2009

Rokok Haram atau Mubah...?

Sampai saat ini perdebatan yang masih sengit dalam menentukan hukum rokok masih kontroversi, MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang merupakan lembaga umat Islam di Indonesia yang sangat representatif dalam melakukan pemikiran keislaman (ijtihad) dan penetapan hukum (istimbath) dalam rangka proses membimbing umat saja masih belum menemukan kesepakatan dalam menentukan hukum rokok.
Mereka yang berpendapat Haram mempunyai acuan sebagai dasar hukum diantaranya :
  • Dalil larangan yang termaktub dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 195 dan sabda Rasulullah SAW., Tidak boleh berbuat kemudharatan pada diri sendiri maupun orang lain. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu majah. Merokok terang saja dapat menyebabkan kemudharatan, diantaranya dapat mengganggu kesehatan, suatu pemborosan dsb.
  • Rokok juga merupakan suatu zat adiktif yang bisa menyebabkan kecanduan, dan hukum dari sesuatu yang bisa menyebabkan kecanduan adalah haram.
  • Jika kita telah kecanduan/tergantung terhadap sesuatu, maka dapat saja secara tidak langsung/tidak sadar kita dapat menuhankan barang tersebut.
Demikian pula dengan mereka yang berpendapat Makruh, mereka juga punya acuan sebagai dasar hukumnya :
  • Tidak ada nash yang jelas, yang menyatakan rokok itu haram.
  • Bau orang memakan bawang sama tidak enaknya dengan orang merokok, jadi hukum rokok makruh.
  • Bahayanya (rokok) itu relatif, tidak signifikan seperti minuman keras atau daging babi.
  • Orang yang merokok juga punya relativitas, ada yang kalau merokok, pikirannya jadi terang.
  • Dengan MUI mengharamkan rokok maka terang saja akan langsung berpengaruh terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Indonesia, karena masyarakat kita kehidupannya banyak yang tergantung pada rokok, seperti masyarakat Kudus yang merupakan penghasil rokok dan kertas rokok dan masyarakat Temanggung yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani tembakau.
  • Dengan mengharamkan rokok juga akan berpengaruh terhadap pendapatan pajak negara yang dapat berimplikasi buruk terhadap kehidupan masyarakat Indonesia secara keseluruhan dan perkembangan dari pada negara Indonesia dikarenakan salah satu pajak terbesar di Nusantara ini adalah pajak rokok.
Melihat dan memperhatikan asumsi serta fatwa dari masing-masing ulama MUI, maka akan lebih baik jika dikembalikan kepada diri kita masing-masing, apakah kita akan mengacu terhadap ulama yang mengharamkan atau memakruhkan rokok, karena kedua kubu tersebut juga mempunyai alasan/dasar yang cukup kuat dalam menentukan hukum rokok. Memang tidaklah mudah meyakinkan diri kita sendiri untuk memilih fatwa mana yang benar, tetapi jika kita terus menggali tentang isi hati kita agar dapat meyakini salah satu fatwa tersebut, insya Allah kita akan menemukan jawabannya untuk diri kita sendiri.
Tetapi dengan adanya kontroversi seperti itu, penulis menghimbau agar tidak terjadi marginisasi antar sesama umat islam, malah dengan adanya kontroversi seperti itu maka hendaklah dapat memperkuat ukhuwah islamiyah, karena sesungguhnya sesama umat islam adalah bersaudara. 'Belum disebut mukmin yang baik jika belum bisa mencintai sesama mukmin'.

Pemilu wajib memilih...?

Menjelang Pilpres dan pemilihan anggota legislatif 2009, beberapa partai mulai banyak yang berlomba-lomba untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat serta berkompetisi (baik secara sehat ataupun tidak sehat ) agar dapat memenangkan sayembara berskala nasional tersebut, apalagi setelah dengan adanya putusan MK yang mengultimatum bahwa suara terbanyaklah yang berhak menyandang predikat sang juara, tidak sedikit dari mereka yang pontang-panting dalam mencari massa setelah sebelumnya hanya duduk manis karena memperoleh nomor urut dalam zona yang aman. Bahkan sekarang yang memperoleh nomor urutan (katakanlah 100) dan partai- partai yang agak asing namanya di telinga kita (partai-partai gurem) pun berani berkompetisi dan mencoba melakukan koalisi agar dapat menang dalam pesta demokrasi tersebut.
Beberapa partai juga dengan sengaja mengabaikan asas atau dasar dari pada pendirian partai tersebut, di satu tempat/wilayah mereka berkoalisi dan bekerja sama dengan solid, tetapi ditempat lain mereka berkompetisi secara sengit bahkan bermusuhan. tetapi tetap saja mereka berargumen itu semua demi kepentingan masyarakat kita (katanya).
Disaat sekaranglah kita bisa melihat disekeliling kita terutama yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat mulai kerja super keras, banyak juga dari mereka yang memulai berkampanye (secara sembunyi-sembunyi), menghambur-hamburkan uang agar dapat predikat baik dan peduli, menebar pesona serta menebar janji-janji yang saya rasa kurang efesien dan efektif dilakukan karena masyarakat kita sudah cukup jeli dalam menelaah serta mencemati janji-janji yang akan terealisasi atau tidak.
Tidak sedikit pula dari mereka secara mendadak peduli dengan kehidupan rakyat kecil, fakir miskin, pembangunan masjid misalnya dan sebagainya, padahal jika kita mencermatinya lebih mendalam tentunya kita bisa menyeleksi mana yang kira-kira berbuat 'riya' dan mana yang tidak.
Tetapi suatu ketika penulis pernah membaca suatu artikel yang intinya berisikan bahwa wajib hukumnya untuk menyalurkan hak suara (walaupun tidak ada kriteria yang masuk menurut hati nurani serta keyakinan kita) dengan berbagai macam stetment, pernah juga penulis mendapati sebuah tulisan yang berisikan ' pilihlah yang jelek dari yang terjelek' menurut kita, juga dengan berbagai argumentasi. Menurut penulis, jika kita mengacu pada statement tersebut, tentunya Nusantara ini tidak akan berkembang dan akan bersifat statis, perubahan apa yang akan diberikan dari para wakil-wakil rakyat kita jika kita punya paradigma seperti itu ?, apakah di Indonesia tercinta ini sudah kehabisan stock orang yang benar-benar mempunyai dedikasi yang baik, pintar dalam mengatur negara yang meninggalkan banyak hutang ini, tegas dan amanah?
Di satu sisi penulis mempunyai asumsi yang berbeda, bahwa tidak memilih adalah salah satu dari pilihan, yang namanya hak itu boleh digunakan atau tidak, misalnya saja dalam melakukan pekerjaan, kewajiban kita adalah bekerja dan salah satu hak kita adalah memperoleh gaji, gaji sebagai hak kita boleh kita ambil boleh tidak, sama halnya dalam menggunakan hak suara, bukan maksud penulis mengajak untuk abstain, tetapi kita harus lebih jeli dan cermat lagi dalam memilih calon wakil rakyat kita, juga menurut penulis ' lebih baik abstain jika tidak ada diantara calon wakil rakyat kita yang tidak memenuhi kriteria sesuai dengan keyakinan kita yang membawa perubahan bagi masyarakat kita agar minimalnya masyarakat kita bisa tersenyum'.
Akan tetapi semua itu dikembalikan pada diri kita masing-masing atau sesuai dengan keyakinan kita mana yang berhak memimpin atau menjadi wakil rakyat kita, tetapi sudah seharusnya jika kita yang akan memilih wakil rakyat harus tahu tentang latar belakang partai dan calonnya serta visi misi partai dan calonnya.
Selamat menuju pesta demokrasi yang Insya Allah akan berjalan kondusif, Amiin....